Bushido – Sebuah Jalan Tiada Henti

Martial Arts’s Spirit

Aikido in Practice : Latihanku Bersama Sempai di Dojo Shizen

Aikido merupakan bela diri yang sangat menarik dan banyak variasi teknik yang bisa dilakukan. Bahkan dalam suatu journal tentang aikido disebutkan pengembangan waza dalam aikido bisa mencapai lebih dari 5000 waza. Hal ini sama seperti kita belajar bahasa, pertama kita memahami kata per kata, lalu tahapan berikutnya kita berusaha merangkai kata-kata yang ada menjadi sebuah kalimat sehingga memiliki makna tertentu. Kemudian setelah mahir baru lah kita bisa meramu berbagai macam kalimat sesuai kebutuhan kita, dari kata per kata yang telah dikuasai tersebut. Begitulah kira-kira ilustrasi bagaimana teknik aikido yang secara basic berjumlah sedikit bisa diramu sesuai kebutuhan hingga mencapai ribuan waza. Tentunya hal itu dapat dicapai setelah melalui jalan yang panjang, setelah menguasai semua teknik basic, dan juga setelah bisa memahami dan mengaplikasikan filosofi aikido baik saat latihan maupun dalam kehidupan sehari-hari.  Dalam latihan aikido juga ada suatu teknik yang bertujuan untuk meng-counter balik eksekusi yang dilakukan oleh nage, sehingga fungsi uke yang menyerang bisa berubah menjadi nage. Contohnya bisa dilihat pada eksekusi teknik iriminage dibawah ini.

Dan dibawah ini adalah rekaman saat kang wahyu main ke malang saat Ramadhan tahun 2007 kemarin. Sambil menunggu buka puasa, kami menyempatkan untuk berlatih di lapangan rektorat Unibraw. Relax, relax, and so relax…

Maaf ya kang wahyu, sekali-kali sampeyan terus yang jadi uke, he he he

Iklan

April 1, 2008 Posted by | Aikido, Videoclips | 26 Komentar

Manfaat Berlatih Visualisasi untuk Mental dan Pikiran

Kekuatan mental dan pikiran bukanlah sesuatu yang asing di abad ini. Hampir semua orang baik dari kalangan ilmuwan maupun dari kalangan praktisi bela diri mengakui efektivitas dari kekuatan pikiran dan mental yang terlatih. Pikiran merupakan anugerah Tuhan yang paling berharga dan paling indah. Ada berbagai cara untuk melatih mental dan pikiran agar dapat fokus dalam melakukan segala tugas penting. Diantaranya yaitu dengan melakukan visualisasi tentang kegiatan yang akan dilaksanakan. Dengan melatih visualisasi dan mengembangkan kekuatan pikiran, kita dapat menciptakan hal-hal terbaik bagi kehidupan kita. Selain itu juga bisa meningkatkan kecerdasan kreatif dan kecerdasan spiritual yang akan tumbuh dan berkembang ke tataran yang lebih tinggi. Pikiran sebenarnya tidak ada batasnya, yang membatasinya adalah persepsi dan keyakinan diri kita sendiri.

Ada kisah menarik yang pernah saya baca mengenai pelatihan pikiran dan mental ini. Seorang pilot Amerika yang telah tertembak jatuh dan dimasukkan ke dalam penjara di Korea Utara pada tahun 1950-an. Pilot ini sangat suka bermain golf, dan selama berada di dalam sel penjara, satu-satunya hal yang dapat dilakukannya adalah dengan membuat visualisasi dirinya bermain golf dan memenangkan sebuah kejuaraan golf. Dia membayangkan terus bermain golf 18 lubang secara sempurna. Ketika akhirnya dia dibebaskan dan pulang kembali ke Amerika, salah satu hal pertama yang dilakukannya adalah mendaftar ikut tournament golf. Bisakah anda menebak apa yang terjadi? Ya, ia bisa memenangkan tournament itu dengan mudah sehingga membuat heran semua orang. Mereka berpikir bahwa kemenangannya hanyalah karena nasib baik atau kebetulan saja. Tetapi bagi dirinya tidak, ia mengatakan pada setiap orang bahwa ia tahu dirinya akan menang karena secara mental ia telah berlatih, mempraktikkan pukulan yang sempurna, selama berada dibalik jeruji penjara, sampai ia bisa merasakan kemenangannya dari dalam sel penjara tersebut.

Dari kisah tersebut banyak sekali hikmah yang bisa dipelajari, diantaranya yaitu :

1.   Kekuatan pikiran bisa dikembangkan seluas-luasnya hingga mencapai hal yang mustahil sekalipun.

2.   Visualisasi bisa melatih pikiran menjadi terfokus. Dan hal itu harus dilakukan secara berulang-ulang agar dapat diserap oleh pikiran bawah sadar.

3.   Pikiran mengarahkan gerakan anggota tubuh. Pikiran selalu memimpin didepan, dengan fokus yang baik maka tubuh akan bergerak mengikuti instruksi dari pikiran.

        Bagi setiap praktisi bela diri dan aikidoka terutama, sebagian besar sudah sering melakukan teknik visualisasi ini. Kekuatan fokus yang terlatih ini dapat membantu praktisi aikido untuk bisa melakukan waza dengan sempurna hingga mencapai tahap No mind dan No power (yang terakhir itu istilah dan ciri khas dari sensei saya kalo menjelaskan suatu teknik). Atau seperti yang dikatakan oleh O’Sensei yaitu menyatu dengan alam. Bukan berarti kita selaku aikidoka tidak berlatih didojo lagi, akan tetapi teknik visualisasi ini dilakukan untuk menyempurnakan waza yang telah dan harus tetap dilatih selama di dojo masing-masing. Bagi praktisi aikidoka yang telah mencapai tingkat yang lebih tinggi, teknik visualisasi menjadi suatu latihan rutin terutama untuk mengembangkan harmonisasi dan keselarasan ki. Selamat berlatih buat para aikidoka dimanapun berada.

Maret 30, 2008 Posted by | Aikido, Mind Focus | 8 Komentar

Keiko

Aiki tidak bisa dipahami

Dengan kata ataupun ucapan

Tidakpula dengan pembicaraan

Namun dimengerti melalui latihan

(O Sensei Morihei Ueshiba)

          Kunci penguasaan aikido adalah berlatih (keiko). Tanpa esensi latihan, aikido hanyalah sebatas teori. Namun begitu latihan fisik semata tanpa berusaha mengerti konsep filosofis aikido bagaikan berusaha mendapatkan cangkang telur tanpa isi.

Latihan gerakan yang dilakukan dalam aikido hanyalah cara untuk menangkap makna sebenarnya dan memperoleh manfaat. Secara umum, orang yang berlatih Aikido mencapai pemahaman setelah melalui suatu proses yang panjang. Melalui latihan pikiran dan tubuh yang intensif,akan tercapai harmonisasi dan keselarasan antara spirit, pikiran, gerakan teknik, menjadi kesatuan yang mengalir dengan spontan dan bebas sesuai dengan prinsip ataupun hukum alam.

Budoka bukanlah seorang yang terlatih, tetapi Budoka adalah seorang yang terus berlatih

Juni 11, 2006 Posted by | Aikido, Uncategorized | 3 Komentar

Sekilas Aikido

Aikido merupakan seni beladiri dari Jepang yang ditemukan dan dikembangkan oleh Morihei Ueshiba (1883-1969) pada kisaran tahun 1920-an hingga1960-an. Dasar teknis beladiri Aikido dibentuk dari beberapa bela diri kuno Jepang seperti Jujutsu, Kenjutsu (ilmu pedang), Yarijutsu (ilmu tombak), maupun Jukendo (ilmu pisau). Unsur-unsur seni beladiri lainnya seperti jujutsu Kito-ryu, Yagyu-ryu, Aikijutsu Daito-ryu dan beberapa aliran lainnya oleh Morihei digabungkan, dan digubah unsur-unsur teknisnya dengan modifikasi dan penyempurnaan sehingga tercipta suatu aliran bela diri yang khas yang diberi nama AikidoPada dasarnya Aikido adalah suatu sistem dari teknik melempar, mengunci dan memukul dan juga dikombinasikan dengan latihan penggunaan pedang, tongkat, dan pisau.

Sebagai suatu bentuk ilmu bela diri (budo), Aikido sebenarnya bukan hanya suatu seni untuk membela diri. Aikido juga adalah suatu cara untuk menemukan diri kita sendiri dan pengembangan karakter. Setiap orang akan mempunyai cara yang berbeda dalam berlatih, tetapi jika anda tetap berlatih dengan rajin maka anda akan menemukan banyak pengembangan di dalam kehidupan anda. Keuntungan-keuntungan yang akan diperoleh misalnya meningkatkan daya tahan tubuh, memperbaiki rasa percaya diri dan mengenal diri sendiri, termasuk keterbatasan kita dan juga orang-orang di sekitar kita.

Konsep yang paling dasar dari Aikido adalah “keharmonisan” dengan si penyerang. Dalam praktek, seorang Aikidoka (orang yang berlatih Aikido) akan menggunakan kekuatan si penyerang, untuk melawan penyerang itu sendiri dengan menggunakan gerakan mengunci dan melempar. Ketika di tarik, seorang Aikidoka akan bergerak kearah si penyerang. Ketika di dorong, seorang Aikidoka akan berputar untuk menghindar. Dengan cara ini Aikido membuat seseorang merubah kekuatan penyerang sehingga tidak menjadi ancaman. Dalam posisi yang lemah ini, maka si penyerang akan menjadi sasaran dari berbagai bentuk kontrol (cara-cara yang mengarahkan si penyerang ke kuncian yang mematikan) atau melempar.

Yang mendasari teori-teori tersebut adalah sejumlah prinsip dan metode dimana semuanya merupakan bagian untuk menumbuhkan pengertian yang lebih besar mengenai seni dari Aikido itu sendiri.

Metode-metode yang pertama adalah yang berhubungan dengan “Shite” (yang melakukan teknik) dan “Uke” (si penyerang). Di dalam latihan Aikido yang tradisionil shite dan uke adalah pasangan untuk berlatih, bukan lawan. Sebagai pasangan mereka akan bekerja sama, untuk menumbuhkan suatu suasana yang sesuai dengan aplikasi dan penelitian cara mengunci dan melempar yang kadang-kadang berbahaya. Kerja sama yang tinggi dapat membantu anda untuk membuat konsep baru dari sebuah serangan yang berasal dari suatu kekuatan yang menghancurkan dan berbahaya, menjadi fasilitator positif dari teknik Aikido anda.

Aikido juga menggunakan konsep “shochu-ryoku” atau tenaga yang difokuskan. Ini adalah suatu kemampuan untuk memfokuskan tenaga anda ke satu titik. Dengan menggunakan kekuatan pinggul, kaki, lutut, perut, dan lain-lain, disatukan untuk memfokuskan tenaga anda ke satu sasaran, tenaga yang dihasilkan akan lebih besar dari pada tenaga dari otot-otot saja. Karena itu kemampuan seorang Aikidoka untuk menghasilkan tenaga seperti itu dapat membuat seorang yang lebih kecil dan lebih lemah untuk melaksanakan teknik-teknik pada lawannya yang lebih besar dan lebih kuat.

Kekuatan nafas atau “kokyu-ryoku” adalah ketika perasaan sensitive kita, nafas kita, dan ritme tubuh disatukan, untuk menjadikan seorang Aikidoka dapat membaca dan mengarahkan gerakan-gerakan si Uke.

Anda tidak perlu mengambil pelatihan khusus untuk mengembangkan tenaga nafas, karena dengan sendirinya anda akan mengembangkannya melalui pelatihan yang konsisten.

Aikido sebagai seni beladiri melatih koordinasi antara jiwa dan badan seorang praktisi sehingga lebih terintregasi dalam menghadapi serangan. Aikido menekankan relaksasi baik secara biologis maupun psikologis dalam pembelaan diri. Dengan begitu, respon pembelaan diri terhadap serangan akan lebih baik dan tenaga tidak banyak terkuras.

Aikido dimulai dengan niat yang baik dan berakhir dengan kebaikan.


Mei 9, 2006 Posted by | Aikido | 8 Komentar